Menunda pernikahan di masa sekarang menjadi hal yang wajar bagi beberapa kalangan. Setiap orang mempunyai waktu yang tidak bisa disamakan dalam memulai sebuah pernikahan. Pernikahan yang terkadang menjadi momok bahagia bagi beberapa orang. Akan tetapi, bisa menjadi momok menakutkan juga. Di masyarakat kita pun, usia pernikahan masih menjadi perdebatan. 

Masyarakat umum yang sangat obsesif terhadap pernikahan, dan menganggap bahwa setiap orang harus menikah. Oleh karena itu, kehidupan lajang bagi beberapa orang bukanlah situasi yang bebas dari tekanan masyarakat dominan. Pernikahan menjadi salah satu ritus budaya yang sangat dihargai oleh hampir semua kelompok etnis budaya di Indonesia. Setiap orang diharapkan untuk memasuki pernikahan pada usia dewasanya. 

Oleh sebab itu, setiap orang yang menunda pernikahan atau memilih untuk tidak menikah dianggap tidak memenuhi ekspektasi sosial budaya dan dapat mengalami dampak sosial dan stigma negatif. Di tengah tingginya tuntutan untuk segara menikah, ternyata tidak sedikit orang menunda pernikahannya, bahkan memilih untuk melajang dan melawan stigma negatif yang ada di masyarakat.

Berikut ini merupakan penyebab umum orang-orang menunda pernikahan.

  • Belum siap 

Beberapa orang yang sudah terbiasa hidup sendiri dan mandiri selama bertahun-tahun akan berpikir lebih keras lagi untuk memulai sebuah pernikahan. Selama ini mereka mengurus diri sendiri dan hanya memikirkan kehidupan mereka sendiri. Berbeda ceritanya kalau mereka sudah menikah, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dalam pernikahan. Bukan hanya diri mereka sendiri yang mereka pikirkan. Akan tetapi, satu keluarga yang harus dipikirkan. Mereka yang belum siap mengurus rumah tangga dan bahkan pertengkaran dalam sebuah pernikahan. Faktor finansial juga menjadi alasan menunda pernikahan. Finansial yang belum stabil tentu membuat pernikahan menjadi tidak stabil juga. Oleh karena itu, banyak yang menunda pernikahan untuk benar-benar yakin akan kesiapan mereka.

  • Pendidikan 

Pendidikan menjadi hal yang penting bagi beberapa orang dibandingkan dengan pernikahan. Banyak yang menunda pernikahan dan memilih untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Kepuasan pendidikan tidak berhenti semata-mata hanya ditingkat sarjana. Bahkan mereka ingin terus mendapatkan banyak gelar untuk nama mereka. Usia yang bahkan sudah memasuki kepala tiga pun, tidak menjadi halangan untuk mereka mengejar impian pendidikan yang mereka inginkan. Pendidikan lebih utama untuk masa depan mereka dibandingkan dengan pernikahan yang terkadang begitu rumit. 

  • Karier 

Generasi sekarang lebih ambisius dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka sibuk mengejar karier dan jabatan sehingga tidak sempat untuk berkeluarga. Masa depan yang sudah terjamin lebih penting untuk dipikirkan dibandingkan dengan pernikahan yang pelik. Mereka juga berpikir bahwa menikah akan menambah beban pikiran, berbeda ketika sebelum menikah. Beban pikiran mereka hanya terfokus pada karier yang ingin dicapai. Ketika mereka sudah berkeluarga, waktu yang digunakan tidak hanya untuk diri sendiri. Akan tetapi, untuk pasangannya bahkan anak-anaknya. 

  • Khawatir 

Mengikat diri dengan orang lain tentu melibatkan risiko. Kedua pasangan harus saling memahami satu dengan yang lain. Tidak menuntut kemungkinan harus berkorban demi pasangannya, yang tentu saja menghabiskan energi. Banyak kekhawatiran bahwa pernikahan mereka tidak akan berhasil, ditambah lagi dengan kasus perceraian yang semakin marak dikalangan masyarakat. Mereka berasumsi jikalau pernikahan mereka tidak berhasil, kecuali memang ada jaminan 100% akan berhasil untuk semua orang. Kita memang tidak bisa memastikan itu semua berjalan mulus dan berhasil, namun sesuatu yang belum pasti inilah yang membuat orang-orang menunda pernikahan. 

  • Memilih hidup bebas

Beberapa orang lebih memilih menghabiskan waktu untuk menikmati hidup sendiri dan bersenang-senang. Misalnya, dengan cara berpergian atau menikmati sesuatu yang mereka suka. Alhasil, mereka kehilangan minat untuk membangun keluarga. Berkeluarga dianggap hanya akan membebani pikiran mereka dengan tanggung jawab yang besar. Bila bisa hidup bebas, kenapa harus hidup terikat dan terbebani, pikir mereka. Mereka juga menganggap bahwa jika sudah berkeluarga, tidak akan ada lagi masa mereka untuk bermain-main, bahkan untuk pergi berlibur. Ketika mereka masih hidup sendiri, mereka merasa puas menggunakan uang mereka untuk apapun yang mereka inginkan. Akan tetapi, berbeda cerita jika sudah berkeluarga, mereka harus memikirkan keuangan untuk popok, makanan, bahkan tabungan masa depan buat anak mereka. Jadi, pada akhirnya mereka memilih hidup bebas dibandingkan menikah. 

  • Belum siap punya anak

Bagi banyak orang, anak adalah anugrah terindah dari Tuhan. Akan tetapi, bagi beberapa orang yang belum siap memiliki seorang anak, anak menjadi suatu tanggung jawab yang besar. Jadi, tidak sedikit orang menunda pernikahan karena mereka memang belum siap untuk menjadi seorang ibu yang harus merawat anak. Mereka terkadang takut tidak bisa membesarkan anaknya dengan baik dan menjadi orang tua yang gagal. Ketakutan-ketakutan yang muncul karena mendengar cerita dari teman, keluarga, atau bahkan berasal dari pengalaman pribadi di masa kecil. Banyaknya ketakutan inilah yang membuat mereka memilih untuk menunda pernikahan.